Orang Pertama

 


 “Nanti kalau sudah sampai jangan lupa makan siang, nyebrangnya hati – hati, kalau tidak bisa sendiri ya bareng sama orang yang mau nyebrang saja”, ujar Bapak Kernet yang duduk di sebelahku. Aku menatap mereka seperti tak peduli tetapi sungguh aku mendengarkan dengan baik setiap hal yang diucapkan Bapak Kernet itu kepada anaknya, setidaknya itulah yang dapat aku simpulkan dari anak berseragam putih merah di depanku itu.

Tak lama Bapak Kernet itu memasukkan selembar dua ribu rupiah ke dalam sakunya. Si anak hanya tersenyum simpul sambil berujar terimakasih.

Setelah melewati sebuah perempatan besar, angkot yang kutumpangi berhenti di sebuah gang kecil, si anak SD tadi melompat turun, Bapak Kernet tadi berteriak “Jangan lari – lari, jalan saja, hati – hati!” Kemudian aku tak melihatnya lagi.

Begitulah keseharianku setiap hari adalah berangkat naik angkutan umum yang disebut angkot ini dan pulang dengan setia naik angkot lagi. Aku bukan tipe gadis yang mengeluh karena hal – hal kecil, ada banyak hal besar yang jauh lebih aku khawatirkan daripada hal sepele seperti kenapa aku tidak dibelikan motor seperti teman – temanku yang lain atau kenapa selama hampir tiga tahun di SMA tasku belum pernah berganti. Aku bukan gadis yang percaya bahwa kehidupan ini tidak adil. Aku masihlah gadis 17 tahun dengan kepolosan pikiran dan keluguan hati. Meskipun pandangan ini sudah berubah setelah lebih dari 4 tahun kemudian. Aku gadis yang percaya bahwa kehidupan itu tidak adil. Tidak pernah adil. Setidaknya sebelum sampai cerita ini berakhir .

#

Pria di depanku ini memakai kaca mata hitam yang aku tidak mau repot mencari tahu apa merknya. Dengan koper di depan kakinya dan kemeja biru muda dengan celana chino serta sepatu kulit, tidak mau repot melihatnya lagi karena di tengah panasnya angkot dan terhimpit diantara Ibu – Ibu pedagang sayur di pasar yang baru selesai berjualan di pasar Gede Magelang aku sudah cukup kesulitan mencari udara segar tanpa kontaminasi keringat dan parfum pria itu yang menyengat.

“Laris Bu?” tanya seorang Ibu lain yang duduk jauh didepan pintu angkot kepada para penjual sayur di dekatku.

Mereka menjawab dengan antusias, “ Iya, alhamduliah, rejeki kan sudah ada yang mengatur.” Yang lainnya saling menjawab dengan sumringah. Aku mendengarkan sambil tersenyum kecil.

“Kiri, pak!” ujar pria yang penampilannya paling kontras dengan orang – orang seisi angkot termasuk aku yang mengenakan seragam SMA sekalipun.

Dia mulai beranjak membungkukkan badan sambil mengangkat kopernya, dengan posisi duduknya yang berada jauh di ujung badan angkot dia membutuhkan waktu untuk melewati tenggok – tenggok pejual sayuran yang berada di jalan. Satu per satu penjual sayuran tadi mulai mengangkat tenggok – tenggok mereka, menaruhnya diatas paha mereka memberikan jalan bagi pria pembawa koper.

Tanpa babibu dia menyasak jalan menyenggol kanan kiri dengan koper coklat kulitnya, tidak ada kata permisi terucap ataupun sekedar menganggukkan kepala tanda terima kasih bahkan sebuah senyuman karena telah memberikan jalan kepadanya. Aku menatapnya kesal, namun yang mengejutkan adalah “ Hati – hati, Mas, jangan tergesa – gesa,” ujar seorang Ibu penjual sayuran yang duduk di dekat pintu sambil tersenyum tak memperdulikan bagaimana sang pria menarik paksa kopernya menyenggol kaki orang – orang disekitarnya.

Ketika pria itu sudah turun dari angkot pun, Ibu-Ibu yang berada di dekat pintu dengan tenggok besar di paha mereka dengan sigap menurunkan tenggok-tenggoknya dan membantu pria tersebut menurunkan kopernya, sungguh aku melihatnya dengan gusar, aku bukan tipe orang yang akan sibuk membantu setiap orang tanpa pandang bulu seperti yang dilakukan Ibu-Ibu ini apalagi orang tersebut adalah orang yang terlihat tidak akan meminta bantuan kepada orang lain seperti pria ini, sehingga pemandangan ini sangat mengusikku. Aku bahkan sempat berdoa semoga dia jatuh tersandung karena kacamata hitam besar noraknya, meskipun sepertinya itu tidak terjadi. Bahkan setelah turun dan membayar tidak sedikitpun pria ini menoleh kepada Ibu-Ibu yang membantunya menurunkan kopernya.

Setelah pria ini turun dari angkot kami, mungkin ada yang berharap bahwa Ibu-Ibu ini akan membicarakan pria norak ini, oke atau mungkin hanya aku, karena aku sangat ingin membicarakan ketidaksopanan, ketidaktahuberterimakasihan, kesombongan dan ketidakbaikan-ketidakbaikan lain dari 8 menit perjalanan bersamanya ini, aku  pasti akan bergabung dalam obrolan itu.

Tidak. Tidak sama sekali. Tidak ada dari Ibu-Ibu ini yang membicarakan pria norak tadi, sama-sekali! Mereka kembali ke obrolan mereka mengenai  harga sayuran, harga bahan pokok sampai resep makanan. Apakah Ibu-Ibu ini teralu naif untuk mengakui bahwa pria tersebut sangatlah norak, secara fisik maupun secara moral?

Aku memutuskan untuk memberi pelajaran kepada mereka mengenai bagaimana sebuah kesopanan dan sebuah peghargaan terhadap orang lain kepada Ibu-Ibu ini ketika aku turun nanti, aku berjanji kalau aku lebih dulu turun dari Ibu-Ibu ini aku akan menununjukkan bagaimana anak muda saat ini masih peduli akan kesopanan, dengan seragam yang masih kukenakan juga bisa menunjukkan kualitas sekolahku yang baik di saat yang sama.

Benarlah aku turun sebelum mereka, aku akan menunaikan janjiku. Aku mulai dengan mengatakan “Kiri, pak…,” dengan lembut namun tegas, langkah pertama yang mulus.

Aku mulai berdiri dengan berjalan pelan dan hati-hati sambil mengatakan, “Permisi…permisi….,” sampai keluar dan mebayar kepada supir angkot dengan senyum mengembang dan berterimakasih dengan ramah.

Seharusnya janji “menunjukkan-bagaimana-sebuah-kesopanan-dan-sebuah-penghargaan-terhadap-orang-lain” ini sudah gugur apabila aku langsung beranjak dari sana. Namun karena bus sialan di belakang angkot yang kutumpangi berhenti aku harus menunggu angkot ini beranjak untuk menyebrang. Dan karena bus sialan ini, aku harus mendengarkan percakapan Ibu-Ibu yang baru saja mendapatkan pelajaran mengenai “bagaimana-sebuah-kesopanan-dan-sebuah-penghargaan-terhadap-orang-lain”.

“Anak SMA X kok seragamnya lusuh sekali ya!”

“Anak jaman sekarang baunya keterlaluan ya, mungkin karena sudah dari pagi ya, Bu!”

Saat itu juga, aku ingin mengulang bagaimana aku keluar dari angkot tadi, akan kutendang semua tenggok mereka, kuinjak sayuran mereka dan akan kukatakan betapa bau mereka jauh lebih bau dari seluruh anak SMA baru puber yang setelah olah raga dikumpulkan di satu angkot ini.

Bagaimana tujuan mulia berubah menjadi sebuah dosa, bagaimana sebuah janji “menunjukkan-bagaimana-sebuah-kesopanan-dan-sebuah-penghargaan-terhadap-orang-lain” yang sudah gugur selama tiga detik kembali belum terlaksana sampai hari ini. Kutukan-kutukan mengalir deras kepada Ibu-Ibu di dalam angkot sialan itu, dan ketika itulah kesadaran menamparku, akulah yang terlalu naif disana.

People, kadang hanya terkadang..kalian akan menemukan Ibu-Ibu di angkot atau siapapun dimanapun yang menyebabkan kalian tidak bisa memenuhi janji-janji kecil kalian kepada diri kalian sendiri. Pardon segala kutukan-kutukan yang keluar karena itu, life still goes on.

Kadang hanya terkadang..kalian akan menemukan Ibu-Ibu di angkot, anak-anak ABG atau wanita atau pria menyebalkan atau siapapun dimanapun yang menyebabkan kalian tidak bisa memenuhi janji-janji kecil kalian kepada diri kalian sendiri. Semua kutukan-kutukan yang seharusnya tidak muncul dari pikiran-pikiran kita bisa tiba-tiba meledak karena hal-hal tak terduga seperti yang baru saja kualami atau yang sudah aku alami namun belum aku ceritakan disini.

Saat itu aku sadar bahwa dunia ini akan menjatuhkanmu, menggagalkanmu, menghasutmu, meracunimu dan menghancurkanmu, lebih dari keinginan hidupmu bahkan ketika sekarat sekalipun. Ketika kamu meronta untuk diberi kesempatan sekali lagi untuk mengulang semuana dan kembali diberi kesempatan kedua untuk menghirup sesaknya dunia.

Cukup. Bohong tapi nyata. Kiasan tapi ada benarnya.

Aku tidak ingin berlebihan disini jadi akan aku katakan bahwa sejak itu aku sadar bahwa tidak ada sedetikpun di dunia ini bahkan ketika dimana kau merasa kau mendapatkan apa yang kau inginkan, sesungguhnya itu hanyalah sebuah hadiah ketika kau memenangkan sebuah game seperti Hill Climb Racing (sungguh kau harus mencoba memainkannya) dimana kau mendapatkan emas setelah melewati jalan bergelombang curam dan berbatu besar kasar untuk menemui jalan yang lebih bergelombang lebih curam dan berbatu lebih besar dan kasar.

Dunia bukannya tidak adil. Dia memang tidak pernah adil bukan hanya kepadaku namun juga kepada Ibu-Ibu penjual sayuran serta setiap kepala di dunia ini. Mungkin Ibu-Ibu penjual sayur itu hanya ingin pulang berbagi cerita dengan teman-temannya dengan membagi segala cerita mereka, tapi aku telah memberi mereka kesempatan untuk mencemooh dan menjadi sebuah dosa dan mungkin lelaki norak itu tidak berniat menjadi pusat perhatian dan memberi kesempatan kepadaku untuk memakinya, kami semualah yang terlena, lemah dan naif. Tapi dia hanyalah sebuah dunia yang memang ditugaskan memberikan segala siksaan, tipuan, hasutan, ejekan dan disaat yang sama anehnya memberi kebahagian, kenyamanan dan keharuan.

Aku tidak akan belajar mengenai sebuah ekspektasi, realita dan segala hal mengenai kenaifan sampai saat ini apabila kejadian angkot ini tidak terjadi, yang juga tidak akan terjadi apabila aku tidak naik angkot setiap hari sampai lulus SMA. Ketidakadilan yang aku rasakan saat itu bahkan sampai hari ini mungkin bisa dibilang cukup adil setidaknya sampai saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s