Orang Kedua

                                                 


Gerbang sekolah berwarna hijau muda terang dengan pohon beringin besar di pojok kirinya dan pohon buah markisa –sulit mengidetifikasi pohon apa itu sebenarnya karena sudah tidak terlihat lagi pohon apa yang menjadi inangnya-, sepagar pohon anggur merambat yang tidak pernah terlihat berbuah serta puluhan pot-pot tanaman yang berjajar rapi mengiasinya. Di bagian pojoknya terdapat tempat duduk keramik yang akan menjadi favorit ketika jam istirahat tiba karena terasa dingin berkat naungan pohon beringin besar disampingnya. Sekotak kolam pasir yang digunakan untuk permainan lompat jauh saat pelajaran Olah Raga, tempat parkir yang akan selalu dipenuhi dengan sepeda dan beberapa sepeda motor. Terdapat juga sebuah selokan membatasi sekolah bernomor Dua dengan sekolah lain bernomor Tiga. Kadang, anak-anak laki-laki kelas dua sering mencari yuyu –kepiting kecil- disini atau sekedar melempar batu ke aliran selokan. Seperti kebanyakan sekolah dasar lainnya lapangan berada di tengah-tengah bangunan dengan tiang bendera tepat di tengahnya.

Gedung dua lantai yang menjadi kebanggan bagi siswa-siswinya karena tak banyak sekolah dasar yang memiliki dua lantai layaknya sekolah ini kala itu. Ruang kelas yang di kanan-kirinya terdapat jendela-jendela kaca dengan gorden biru dan berbagai hasil prakarya berupa burung-burung origami yang digantung di jendela kaca menghiasi pemandangan di luar. Di belakang gedung sekolah terdapat sebuah bukit dengan sebuah kali -sungai kecil di puncaknya, sistem pengairan peninggalan jaman Belanda sepanjang Kota Magelang-, pemandangan Pak Bon yang membersihkan kebun di bukit belakang menjadi pengalih perhatian yang bahkan sangat menghibur dipagi hari bagi murid-murid kelas 2 saat itu. Dua papan tulis hitam besar yang tergantung di depan dengan hampir lima puluhan kursi yang berada di ruangan menjadikan satu-satunya benda hidup terbesar di ruangan ini adalah Wali Kelas kami. Seorang wanita awal 50an yang kala itu yang badannya selebar sepertiga papan tulis kelas kami. Rambutnya  ikal menggelombang seepanjang bahunya dan warnanya yang benar-benar hitam legam membingkai wajahnya yang sudah berkeriput namun terlihat cantik dengan kulit kuning terangnya. Matanya sipit dan tajam dibingkai kacamata bulat dengan frame emas dan warna lipstiknya yang selalu merah darah setiap harinya menjadikan wajahnya sangat iconic.

Kegiatan tiap paginya adalah memanggil nama murid-muridya satu persatu dan menuliskan siapa saja yang tidak masuk dengan alasan apapun di papan kecil setelah pintu masuk kelas. Aku selalu bangga namaku dipanggil kala itu, nama pertamaku memang hanya satu-satunya dikelas. Ya, se-sederhana itu membuatku bangga, ketahuilah terlalu sulit menjadi siswa peringkat pertama membuatku harus menurunkan standar kebanggaanku, people. Ada dua orang Annisa di sekolahku, dua orang Riski dan lebih dari tiga Muhammad di kelas kami. Nama yang unik menjadikanmu, hmm sebenarnya tidak menjadikanmu siapapun, hanya kebanggaan bagiku waktu itu, ya bagiku, it’s just me, ok?

Badanku cukup tinggi diantara teman-temanku yang lain meskipun aku bukan yang paling tinggi. Bajuku yang setahun lalu menyisakan space cukup bagi anak-anak lainnya melihat ketiak dan kaos dalamku apabila aku mengangkat tangan sudah tak lagi bisa memberikan kesempatan  dosa mengintip bagi anak-anak lainnya, lengannya yang setahun lalu panjangnya melebihi siku tangan sekarang mulai seakan-akan naik diatas siku. Rok yang setahun lalu tepat ditengah tungkai dibawah lutut menjadi selutut saat ini. Rambutku yang semula dikucir dua mulai dikucir kuda karena tidak ada anak-anak kelas 5 atau 6 yang menjadi idolaku kala itu berkuncir dua. Aku selalu suka melihat kumpulan anak-anak kelas 5 atau 6 yang sedang bermain dan meniru apa yang bisa kutiru dari mereka. Ingin dilihat sebagai “anak besar” adalah the biggest desire of my 7 years old soul ever wanted.

Tanganku bergetar dan otakku mulai sibuk mengingat kembali semua penjumlahan dan pengurangan yang sudah diajarkan Ibu kepadaku semalam. Hari itu Bu Sri mengadakan ulangan lisan matematika dengan memanggil beberapa anak sekaligus di depan untuk diuji secara acak mengenai penjumlahan dan pengurangan.  

Hari itu juga Bu Sri menjadi guru pertama yang membuatku mengerti bagaimana “galak” itu. Selama ini aku sering mendengar kata “galak” namun aku tidak akan bisa menjelaskan artinya sampai hari itu. Seperti kalian mendengar kata asin pertama kalinya dan kalian tidak akan tahu bagaimana asin itu sampai mencicipi garam. Seperti lagu dangdut kedengarannya. Kurang cengkok Inul Daratista saja.

Bu Sri mulai memanggil satu persatu secara acak nama teman-teman sekelasku. Aku yang hanya 7 tahun masih terlalu suci untuk mengerti sebuah kutukan sehingga yang terjadi adalah pikiranku yang semakin panik dan badanku yang mulai bergetar lebih hebat. Tanganku dingin dan keringat mulai terasa di kedua telapak tanganku. Sungguh berbahagialah orang-orang dewasa yang mengerti bagaimana mengutuk mengurangi kepanikan kalian dan membuat perasaan lebih santai. Entah siapa yang mengajariku mengutuk namun aku sangat berterimakasih kepada siapapun itu. Apabila badan bergetar hebat dan keringat dingin yang muncul tak karuan di dahi dan tanganku masih terjadi di umur 20an pasti aku sudah disangka step.

“Ya Gusti…5 ditambah 7 berapa?” teriak Bu Sri sambil memukul penggaris panjangnya ke meja keras.

Sungguh kelas yang tadinya ramai karena anak-anak yang bermain-main sendiri-sendiri langsung mendadak bungkam seakan-kan ada bom jatuh di belakang sekolah kami.

“…..10?” jawab Reza pelan sambil menatap Bu Sri ketakutan.

“Sepuluh? ? ? ? ? ? ? ?” Bu Sri berteriak keras sekali membuatku dan mungkin teman-temanku yang lain hampir meloncat karena kagetnya.

“Berapa cah 5 ditambah 7?” Bu Sri bertanya pada kami berempat yang maju bersama Reza sambil menatap tajam ke kami bergantian.

Sungguh ketika Bu Sri berteriak tadi sepertinya otakku sudah kehilangan seperempat memorinya, sialnya memori itu yang semalaman aku hafalkan. Dan sepertinya tiga temanku yang lain tidak jauh berbeda keadaannya denganku, apalagi Reza yang muali menghitung-hitung dengan jarinya namun kebingungan karena sepertinya dia masih kekurangan jari.

Gusti….tidak ada yang tahu? Belajar tidak kalian semalam? ? ?”

“Belajar, bu,” jawab kami pelan.

Lha kok tidak tahu itu bagaimana?”

“Lupa, bu,” Reza menjawab.

“Cah, matematika itu tidak dihafalkan biar ndak pakai lupa! Dihitung! Matematika itu dihitung,” Ya Tuhan sumpah Bu Sri benar-benar terlihat seperti Mak Lampir Misteri Gunung Merapi yang tiap malam jadi tontonanku. Matanya melotot sedang tangannya membawa penggaris kayu panjang besar seperi tongkat tengkorak kepunyaan Mak Lampir. Aku siap dibawa masuk ke kawah merapi menjadi tumbal Gondrong –cucu Mak Lampir- rasa-rasanya.

Karena Reza yang tak kunjung bisa menjawab soal-soal pengurangan dan penjumlahan Bu Sri berpindah ke kami berempat bergantian. Sungguh aku sangat takut imajinasiku dibawa ke kawah Gunung Merapi menjadi tumbal Gondrong menjadi kenyataan, membuat seakan-akan otakku bereaksi tiga kali lebih cepat dari seharusnya. Dan sepertinya hal itu juga terjadi kepada teman-temanku yang lain karena kami dapat menjawab dengan lancar. Aku sedikit jengkel dengan Reza karena dia benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sudah dilontarkan kepada kami berempat.

“8 ditambah 9 berapa?”

“10 ditambah 2?”

Satu-satunya pertanyaan yang bisa dijawab Reza adalah 5 ditambah 5.

Nek dihitungnya pakai jari tangan kamu ndak bakal bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Ibu,” Bu Sri mulai menyadari bahwa Reza sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban lebih dari 10.

Hal yang selanjutnya Reza lakukan sungguh membuat Bu Sri murka, rasa-rasanya Merapi bisa menjadi headline terbesar tahun 2002 karena kemarahan Bu Sri bisa membuat Merapi meletus saat itu. Demi Tuhan, rasanya seakan-akan jiwaku dicabut selama dua detik. Itu adalah detik-detik aku mengerti arti kata galak yang menjadi cap tidak menyenangkan bagi guru-guru satu Indonesia.

Holly freaking Mother, Reza mulai membuka tali sepatunya ingin menambah alat hitungnya agar dapat menjawab pertayaan-pertanyaan Bu Sri dengan lugunya.

CTAAARRRR. Penggaris kayu yang panjangnya kira-kira setinggi anak umur 7 tahun terbelah menjadi dua. Ya Tuhan bagaimana kalau itu badanku!

“Ya Gusti paringono SUABUAARR! *Ya Tuhan berikanlah kesabaran!” teriak Bu Sri membuat semua teman-teman sekelas kami terdiam tak berani mengatakan apapun. Bahkan kelas sebelah sekan-akan ikut hening karena teriakan Bu Sri.

Yang terjadi selanjutnya menjadi alasan mengapa kejadian ini membuatku mengingatnya sedetil ini.

Bu Sri menjewer telinga kami satu persatu! Hellooooooooooooooooooooooooooooooooo…..from the other side~ Lemme get this straight deh, sepertinya yang tidak bisa menjawab pertanyaan Bu Sri adalah Reza SEORANG! Apakah nama kami berempat berubah menjadi Reza saat ini, dan salah siapa Reza tidak bisa menjawab pertanyaan Bu Sri? Apakah salah kami sesama 7 tahun yang bahkan masih ada yang belum bisa cebok sendiri?

“Ibu saya ngajarinnya begini Bu kemaren, katanya kalo ngitung tu ya begini!”

“Apa semua juga diajari begitu? Ya benar memang begitu caranya tapi bukan berarti terus-terusan pake jari. Jari kalian itu cuma 20 sampai mati, tidak akan nambah kalo kalian menghitung ratusan, ribuan bahkan jutaan nanti!”

“Jari itu cuma bayangan, pura-puranya gitu lho..biar pas menghitung di otak kalian masing-masing lebih gampang!” katanya sambil menempelkan jari telunjuknya ke kepalanya.

“Pokoknya kalian semua berlima tidak boleh ada yang duduk sampai kalian bisa menjawab pertanyaan Ibu dengan benar!”

Hellooooooooooooooooooooooooooooooooo…..from the other side~

Tolong jangan dibayangkan anak tujuh tahun menyanyikan lagu Adele dengan tampang songong di depan gurunya. Aku hanya tidak kuasa menahan rasa ketika mengingat peristiwa ini kembali. Itu adalah hari pertama dimana aku merasakan telinga dijewer dan dibentak –meskipun kenyataannya sebenarnya hanya Reza yang dibentak- bahkan orang tuaku belum pernah menjewerku, bukan karena Bapak Ibu berhati kain sutra tapi lebih karena jiwitan dan jambakan lebih pantas untukku.

Aku hanya diam sepanjang pelajaran matematika ini. Bu Sri mulai menjelaskan lagi bagaimana kami bisa menyelesaikan sebuah soal penjumlahan dan pengurangan. Beliau menekankan bahwa kami harus belajar menghitung dalam otak, dalam bayangan dengan waktu yang secepatnya.  Begitulah yang dinamakan menghitung, jelasnya.

Pada akhirnya, Reza bisa menjawab 5 ditambah 7 dengan benar meskipun masih diiringi dengan tangan yang bergerak-gerak seperti sedang berdzikir dan memakan waktu yang lama. Kami pun dipersilakan duduk kembali ketika pelajaran Matematika berakhir. Hari itu hal yang aku pelajari hanyalah arti kata galak dan betapa Bu Sri sangat menakutkan serta kebencian terhadap Reza yang sangat bodoh.

Sekarang, empat belas tahun kemudian baru kusadari betapa hari itu aku sangat idiot mengambil kesimpulan dan menyesali masa-masa SD yang diisi dengan keluhan betapa galaknya Bu Sri dan betapa bodohnya Reza.

Sekarang setelah usiaku sudah dua digit barulah aku bisa berfikir lebih panjang dan matang. Melihat segalanya dari berbagai sisi yang berbeda. Bu Sri membiarkan kami berempat menemani Reza di depan karena Bu Sri tahu membiarkan anak seorang diri dimarahi di depan kelas sama saja mempermalukan dirinya dan tidak langsung menyakiti hatinya yang disaat sama dapat mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Ini mungkin terdengar seperti berasal dari artikel majalah parenting dan mungkin itu benar, karena aku sempat membaca majalah parenting beberapa hari yang lalu. Tapi lebih dari itu, aku pernah mengalaminya, dimarahi di depan kelas, sendirian dan itu sama sekali tidak menyenangkan, bahkan bagi remaja akhir sepertiku membutuhkan waktu lama untuk bisa benar-benar tidak memikirkan hal itu lagi. Bagaimana nasib Reza jika empat belas tahun lalu Bu Sri membuatnya berdiri di depan kelas sendirian, menjewer satu-satunya telinga murid di kelas waktu itu? Mungkin Reza sudah menangis tak karuan dengan bahu terguncang hebat karena takut dan marah disaat yang sama.

Tentunya bukan kemauan Reza tidak bisa menjawab pertanyaan Bu Sri. Reza hanya membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk belajar untuk akhirnya mengerti. Dia memahami bagaimana konsep dasar menghitung dengan menggunakan jarinya, hanya saja dia baru memahami sampai situ saja. Dia belum mengerti bagaiman konsep itu diterapkan ke angka-angka yang lebih besar tanpa menggunakan jarinya atau alat peraga lain yang sering digunakan orang tua saat mengajari anaknya berhitung seperti buah, pensil warna, krayon, kelereng dan lain-lain. Meskipun Ibunya bukan guru matematika dan tidak semua Ibu adalah guru matematika. Tapi pada dasarnya semua Ibu adalah Guru bagi anak-anak mereka sehingga mereka harus siap dengan kegiatan mengajari anak sampai mengerti. Aku tidak menyalahkan Ibunya, ataupun Bu Sri atau siapapun atau aku sendiri. Karena kami dibuat belajar dari satu kejadian ini. Tidak semua anak-anak akan langsung mengerti konsep ini karena aku pun tidak mengerti konsep ini saat diajari oleh Ibu malam itu. Butuh waktu sampai akhir kelas 2 aku benar-benar bisa menghitung tanpa menggunakan “peraga”, selama ini aku lebih pintar menghafalkan jawaban daripada benar-benar menghitung. Ups!

Bu Sri membuat kami sadar bahwa ketika satu teman kami tertinggal di belakang, ini menjadi tanggung jawab kami semua, satu kelas. Tidak hanya kami berlima. Kami yang ketakutan dengan Bu Sri tidak ingin kembali kena murka menjadi lebih “peduli” dengan Reza dan “Reza-Reza” lainnya. Aku ingat bagaimana kami saling mengingatkan pe-er yang harus dikumpulkan, ulangan yang akan dilaksanakan dan mengajari ketika ada yang tidak bisa.

Meskipun ketika kami naik ke kelas 3, kebiasaan baik itu mulai dilupakan oleh sebagian besar anak-anak. Kami menjadi lebih ambisius dan individualis, menjadi peringkat 10 besar, 5 besar dan 3 besar yang menjadi keinginan orang tua menjadi prioritas karena tidak ada lagi “Bu Sri” yang bisa jauh lebih menyeramkan dari orang tua kami.

Mungkin saat ini, menjewer ataupun membanting properti kelas menjadi hal yang sensitif dilakukan dan cenderung dilarang. Entah kenapa aku malah merindukannya. Terkadang, a little harder push is a good kick for kids. Kenapa? Ya karena pada akhirnya kita akan belajar dari situ. Mungkin tidak disaat itu juga akan bisa dimengerti, see how I just figure it out NOW, mana ada anak tujuh tahun dapat berfikir sejauh ini, that would be creepy! Tapi, as we grow older, we understood that we made by what we’ve been through and without any pressure from an older figure or strong role, we’re nothing but seed that will never grow.

Ketika membaca salah satu pertanyaan di salah satu daily question Ask.FM which asked : Can you work under pressure? I scream so hard : Bu Sri already thaught me bitj! No one  can’t even work without pressure!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s