Orang Ketiga

xa
I want to have those wrinkles that tell, that smile to show that I have enough of everything because God creates a perfect story of mine. Ever thine, ever mine, ever ours, told some poem. The beautiful Mentawaian lady picture is taken from holly Pinterest.

Choose everyday to forgive yourself. You are human, flawed, but most of all worthy of love – Alison Malee

Dengan sedikit sempoyongan aku masuk ke dalam bis ekonomi jurusan Yogyakarta setelah pamit ke adikku yang menjadi supirku pagi itu. Tidak ada harapan apapun selain aku tidak pingsan atau kecopetan selama perjalanan. Tidak ada feeling apapun, baik hoki maupun kesialan. Semuanya berjalan dengan harapan cepat sampai ke tujuan karena kepalaku masih nyut-nyutan sisa-sisa sinus yang menyerang. Ketika duduk, bahkan dengan masker yang menutupi setengah mukaku, sebagian lagi ditutupi kerudung motif bunga berumur lima tahun, bau rokok, parfum, keringat dan udara di dalam bus yang pengap masih tercium. Aku sedikit menyesal kenapa aku tidak menunggu lebih lama untuk naik bus patas AC. Terlambat untuk turun, karena seseorang menyapaku.

“Boleh duduk sini, mbak?”

Sapa seorang perempuan dengan masker coklat dan kerudung oranye panjang menutupi setengah badannya.

“Silahkan mbak” jawabku sambil menatap mata dibalik kacamata tebalnya.

Aku baru akan menyampirkan kain gorden bus yang mengganggu pemandanganku sebelum perempuan ini memanggil namaku.

“Anggi…iya bukan sih?” Tanyanya sambil menatapku lekat.

“Yaampun..Luna,” aku sangat mengenalinya. Dia teman satu kelasku di kelas satu SMA sekaligus teman lesku, Kakak perempuannya yang mengajariku (dan dia tentunya) matematika di awal SMA dulu. Tahun 2010 tepatnya. Itu sekitar 7 tahun yang lalu. Dan kami masih saling mengenali dibalik masker dan kerudung yang menyisakan mata kami. Sekarang aku percaya, mata adalah pancaran jiwa, you know who the person is through their eyes, at least their name.

We are Indonesians and I can’t stop my self from basa-basi towards her, just like what she did to me too. Kami saling mengupdate banyak hal yang terlewatkan setelah kelulusan, dimana kami bahkan tidak mengetahui jurusan masing-masing. Sedikit menyesal, mengingat aku menanyainya masalah skripsi, sedangkan aku sendiri benci ditanyai perihal itu. That’s part of basa-basi you know, to ask the up to date activity which probably keep your partner in talking busy nowadays. You have to know, my ability in basa-basi really is well developed since I raised as Javanese that basa-basi skill is running in our blood. I wanna quit basa-basi lots of times, like now, but Luna is so nice and warm that it will be rude and waste of “berkah” to not being “nice Javanese” through basa-basi too. So, I asked anyway. And it lead me to another part of life I have no idea I would hear.

Luna menceritakan bahwa dia masih mengambil kelas semester ini dan seharusnya kembali ke kampus kemarin namun bentrok dengan jadwal terapinya. Sedikit memberanikan diri aku pun bertanya apakah dia sedang sakit, dan ceritanya pun dimulai.

“Aku tu punya mental disorder gitu, Nggi, diagnosis awalnya skizofrenia tapi ternyata bipolar disorder”

Sejujurnya, ada teman dekatku yang sering melakukan self claimed bahwa dia bipolar dan sering memberitahu banyak hal mengenai bipolar,  but because I am against self claimed something so I try to encourage her to go see a psychologist. Dan untuk skizofrenia, aku hanya mendengarnya dari drama Korea favoritku, It’s Ok That’s Love. Basically, I just know that it’s a suffer of crazy mood swings. Then, she told me more.

Luna sudah mengalami ini sejak SD, setiap lima tahun sekali dia harus dibawa ke psikiater untuk mendapatkan perawatan dan terapi lanjutan. Kenapa psikiater dan bukan psikolog? Sebenarnya, terdapat suatu kelainan di otaknya yang menyebabkan produksi hormon-hormon yang mempengaruhi mood-nya tidak stabil dalam jangka waktu tertentu. Psikolog berbeda dengan psikiater, karena psikiater memiliki latar belakang medis yang membuat mereka have the ability to make a medical reference in term of human mental health, while psychologist don’t have one. Kelainan di otak Luna menyebabkan dia harus mengonsumsi obat yang bisa menstabilkan jumlah berbagai macam hormon yang diproduksi otaknya. Tapi, ini lebih dari sekedar kelainan fungsi biologis, terdapat banyak sekali kejadian traumatis yang telah memperparah keadaannya.

Luna mengalami fase-fase dalam bipolar disorder, dimana dia akan sangat bersemangat, memiliki banyak ide dan “in a happy mood every time” di fase manic-nya. Sebaliknya, ketika dia berada di fase depresi, dia akan merasa sangat sedih, masih dengan unstoppable thoughts yang membuatnya tidak bisa tidur dan “in a sad mood everytime”. Fase depresi dan manicnya cukup melelahkan ketika aku mendengarkannya bercerita, dia hanya bisa tidur 1-2 jam saja dalam sehari karena otaknya tidak bisa berhenti berfikir mengenai banyak hal yang menimbulkan entah itu semangat atau kesedihan, tergantung fasenya. Bahkan dia sering meracau dalam tidurnya. Sampai memiliki teman khayalan untuk “menemaninya berdiskusi”. Rasanya tidak mungkin membayangkan keseharianku hanya diiringi 1-2 jam tidur dalam sehari, itu akan sangat sangat melelahkan baik secara fisik maupun mental. Secara tidak langsung, apa yang Luna rasakan tidak hanya berdampak secara mental namun juga terhadap kesehatan badannya juga.

Untungnya, dia memiliki keluarga yang bertindak cepat dengan membawanya ke psikolog. Dia mengatakan bahwa keadaannya saat ini telah berangsur-angsur membaik. Obatnya masih ia konsumsi sampai saat dia bertemu denganku hari itu, bahkan 1,5 tahun lebih setelah dia keluar dari rumah sakit untuk menjalani rawat inap karena fase depresi yang sangat buruk kala itu. Selain itu dia memiliki jadwal terapi tiga kali dalam seminggu untuk membantunya menghadapi fase-fase-nya ke depan.

Pertama, aku mengagumi apa yang Luna lakukan. Membuka diri dan menyadari perubahan-perubahan yang dia alami dan rasakan, memberikan perhatian lebih untuk memahami dirinya sendiri dan menerima bahwa dia membutuhkan perlakuan yang lebih istimewa dari biasanya dengan bertemu psikolog serta mengkonsumsi obat harian untuk menjaga kesehatan mentalnya. Bagiku, mengerti diri sendiri dan menemukan jawaban mengenai apa yang mereka butuhkan adalah perjuangan seluruh umat manusia yang jauh lebih penting dibandingkan perdamaian dunia, bahkan itu bukan sebuah hiperbola. Semuanya dimulai ketika seseorang mengerti apa yang terjadi terhadap dirinya sendiri, aku masih percaya pada konsep bahwa kebahagiaan dimulai dari diri sendiri. Mencari tahu dan berusaha mengerti apa yang dirasakan oleh diri kita masing-masing membutuhkan waktu yang tidak sebentar, membutuhkan perjuangan untuk membuat pemikiran-pemikiran yang hampir kusut untuk kembali selurus benang semestinya, membutuhkan rangkaian serpihan pemikiran dan perasaan yang disatukan hanya untuk mendapatkan kembali sebuah jejak yang harus diikuti lagi untuk melengkapi rangkaian lainnya. Pekerjaan yang cukup melelahkan, namun Luna telah melakukannya, satu rangkaian panjang yang membawanya pada sebuah tahap untuk menerima dan memperjuangkan kehidupannya, dan untuk itu aku turut merasa senang.

Kedua, aku mengagumi apa yang keluarganya lakukan untuknya. Bagaimana Kakaknya merespon kondisinya, sehingga Luna mau menceritakan apa yang dia alami, bagaimana itu sangat mengganggu hidupnya. Mereka tidak menganggap apa yang dia rasakan “hanya” sekedar masalah stress yang dialami dewasa tanggung. Ya, memang dia sudah masuk rumah sakit karena masalah kesehatan mental sejak SD yang membuat Kakaknya dengan mudah mengambil tindakan dengan membawanya ke psikolog. Kalau kalian berfikir, “ya iyalah mereka kan keluarganya, ya pasti mereka bakal ngelakuin sesuatu ketika ada saudaranya yang sakit”, you are so wrong people! Akan jadi hal yang berbeda apabila ini berkaitan dengan kesehatan mental. Mungkin kalian bisa membacanya disini, cerita-cerita mengenai orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental and see their struggle, there is also a Face Book group that talked about mental illness recovery story that will enlightened you more, here. Aku juga memilki cerita lainnya berkaitan dengan masalah kesehatan mental, namun tidak berakhir dengan baik seperti Luna. I will make sure to spare my time for that one!

Now, back to Luna’s family. Ketika Luna menceritakan kondisinya, keluarganya tidak melakukan denying bahwa dia telah mengalaminya sebelumnya, dan topik pembicaraan mengenai kesehatan mentalnya tidak menjadi hal yang tabu, mengingat Kakaknya menanyakan bagaimana kondisinya, apa yang dia rasakan dan apa yang akan dia lakukan dengan kondisinya, bahkan Kakaknya menanyakan apakah dia masih sanggup melanjutkan kuliah mengingat kondisinya yang sudah cukup melelahkan bahkan di waktu (seharusnya) tidurnya. Aku akan membandingkannya dengan keluargaku sendiri karena aku juga sudah menceritakan kisah ini kepada Ibuku dan aku yakin pertanyaan masih sanggup melanjutkan kuliah tidak akan keluar dari mulut kedua orang tuaku. Mungkin mereka akan melakukan tindakan yang sama dengan membawaku ke psikolog, namun untuk masalah kuliah, nu’uh! Can you see the pattern here? My family has a different scale on putting education before mental health issues. Dan menurutku, akan banyak sekali orang-orang di luar sana yang memiliki pandangan yang sama.

The point I want to draw is lots of people out there may have different scale on putting mental health issue but probably has the same scale on putting them separately from body health issue. In fact, both of mental health and body health issue is both an urgent matter. The point is, people need mental health education as well as body health education here. I know view little things from my accidental bus meeting with Luna that day, I learned what, why and how that I need to share.

Maybe, you are not having one of those mental health issues the way some people did but you can put your sincere empathy on them by not identifying them as a disorder. You can not say a person has this or that just by knowing specific symptoms because there is so much more than ‘just’ these symptoms that constitutes a human being. After reading some articles on how to deal with them, there are some easy step to ‘help’. First, put your sincere empathy by befriends with them, don’t let them isolate themselves because they deserve a friendship as well as a relationship. Encourage them to go see therapists and opened up to them as well as spending time with them thus they are open to you and accepted the help you are offering. Make them feel that despite all the bad things they have been and going to get through, they DESERVE the happiness. Not simply being alive, but to appreciate and enjoy the privilege the life offered.

For the people who might struggling with mental health issues, let us learn hand in hand to cherish the small things in life, to value our own self and accepted them the way they are. Opening up to what world offer as a small step towards a better life, because no matter how small the step you take, going forward is going forward, they say. Don’t rush, take as much time  as you need to feel the things you need to feel and never suppress them. Let us remind each other that we are our own savior, nothing lasts forever and neither will these feelings. Let us remind each other that we are worth every bit of this life and every good moment that will happen in the future, there will be bad things, certainly will, but remember life consists of so much more than the negative.

Cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s